Polisi RW Polresta Malang Kota Rangkul Anak, Dorong Kembali Rajin Sekolah dan Tinggalkan Kebiasaan Negatif

oleh -135 Dilihat
oleh
Polisi RW 01 Kemirahan, AKP Totok Hariyanto turun langsung mendampingi AR (12), siswa kelas VI SD,
banner 468x60

Kabarkarya.com | Kota Malang — Peran polisi di tengah masyarakat tak selalu berkaitan dengan persoalan hukum. Di lingkungan permukiman, kepolisian juga hadir untuk mencegah persoalan sejak dini, termasuk ketika menyangkut pendidikan dan pembentukan karakter anak.

Pendekatan humanis itu dilakukan Polisi RW 01 Kemirahan, AKP Totok Hariyanto, yang juga menjabat Kasi Keu Polresta Malang Kota. Ia turun langsung mendampingi AR (12), siswa kelas VI SD, yang menghadapi persoalan perilaku hingga berdampak pada proses pendidikannya.

banner 336x280

Pendampingan dilakukan di rumah Rita, Ketua RW 01 Kemirahan, Kelurahan Purwodadi. Langkah tersebut bermula dari informasi Ketua RW setelah menerima curhatan DN, orang tua AR, mengenai kebiasaan anaknya yang dinilai kurang baik di sekolah hingga akhirnya harus berpindah ke sekolah lain.

Alih-alih memberikan tekanan, AKP Totok memilih pendekatan persuasif. Ia mengajak AR berbicara, memberikan motivasi, serta menggunakan teknik hipnosis sebagai bagian dari tahapan hipnoterapi untuk membantu anak memahami perilakunya dan membangun kesadaran untuk memperbaiki diri.

Pendekatan tersebut juga tidak lepas dari pengalamannya sebagai pembina TPQ. Bagi AKP Totok, anak tidak cukup hanya dinasihati, tetapi perlu didengar, dipahami dan didampingi.

“Tujuan utama kami memberikan motivasi agar anak memahami pentingnya sekolah, belajar, dan memiliki karakter yang baik. Alhamdulillah, proses pendampingan berjalan lancar dan anak AR berjanji tidak mengulangi kebiasaan mengambil uang lagi,” ujar AKP Totok.

Menurutnya, pembentukan karakter anak tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada sekolah. Keluarga justru memiliki peran penting karena intensitas interaksi orang tua dengan anak berlangsung lebih lama.

Karena itu, orang tua diminta membangun kebiasaan belajar dengan pendekatan yang positif, bukan sekadar memerintah atau memarahi anak.

“Anak membutuhkan perhatian, komunikasi dan pendampingan, bukan hanya perintah. Polisi RW berupaya hadir bersama keluarga dan lingkungan untuk mendorong anak memiliki semangat belajar serta memikirkan masa depannya sejak dini,” katanya.

AKP Totok juga mengingatkan bahwa perilaku anak dapat dipengaruhi banyak faktor, mulai dari pola asuh keluarga, lingkungan pergaulan, perhatian orang tua hingga kondisi sosial dan ekonomi.

Untuk membangun kedisiplinan, ia menyarankan sejumlah langkah sederhana.

Di antaranya membuat jadwal belajar yang konsisten, mendampingi anak tanpa menghakimi, memberikan apresiasi atas kemajuan kecil, membatasi penggunaan gawai saat belajar, serta mengajak anak berbicara mengenai cita-cita dan pentingnya pendidikan.

Pendekatan semacam ini diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran dari dalam diri anak.

Dengan demikian, anak tidak hanya belajar karena diperintah, tetapi mulai memahami sendiri mengapa sekolah, pendidikan dan perilaku yang baik penting bagi masa depannya.

Langkah Polisi RW 01 Kemirahan tersebut menjadi gambaran bahwa kehadiran polisi di tengah masyarakat dapat dimulai jauh sebelum persoalan berkembang menjadi masalah hukum.

Melalui pendekatan preventif dan humanis, polisi bersama keluarga serta lingkungan berupaya memastikan anak tetap memiliki ruang untuk memperbaiki diri, kembali menata pendidikan, dan menatap masa depan dengan lebih baik.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.