HIPMI Kota Malang–Jakarta Pusat Bidik 100 UMKM Naik Kelas, Akses Ekspor Jadi Sasaran

oleh -113 Dilihat
oleh
Ketua Umum BPC HIPMI Kota Malang Hendi Suryo Leksono, bersama Ketua Umum BPC HIPMI Jakarta Pusat Teguh Agung Hartanto,
banner 468x60

Kabarkarya.com | Jakarta — Penguatan UMKM tak cukup berhenti di ruang pelatihan. Akses pendanaan, pasar, mentor, dan jaringan bisnis menjadi tantangan yang harus dijawab agar pelaku usaha benar-benar naik kelas.

Atas dasar itu, BPC HIPMI Kota Malang dan BPC HIPMI Jakarta Pusat menggandeng Sahabat UMKM Indonesia membangun kolaborasi pemberdayaan UMKM yang diarahkan hingga tahap coaching, perluasan pasar, dan peluang ekspor.

banner 336x280

Kolaborasi tersebut dibahas dalam pertemuan Ketua Umum BPC HIPMI Kota Malang Hendi Suryo Leksono, Ketua Umum BPC HIPMI Jakarta Pusat Teguh Agung Hartanto, dan Sekretaris Jenderal Sahabat UMKM Indonesia Faisal Hasan Basri.

Skemanya dibuat berjenjang. HIPMI Kota Malang dan HIPMI Jakarta Pusat akan terlibat sebagai pengajar secara daring dengan membagikan pengetahuan serta pengalaman praktis dunia usaha.

Setelah tahap pembelajaran, 100 UMKM akan mengikuti coaching untuk memperkuat kesiapan bisnis dan membuka akses terhadap pendanaan, pasar, hingga ekspor.

Faisal mengatakan coaching menjadi pembeda penting karena pelatihan tanpa pendampingan berisiko berhenti pada pengetahuan.

“Pelatihan merupakan tahap awal. Setelah itu diperlukan coaching agar pelaku usaha mampu menerapkannya dalam bisnis. Ketika usaha semakin siap, akses pendanaan, pasar, dan peluang ekspor juga semakin terbuka.” kata Faisal, Minggu (23/8/2028)

Menurut Faisal, persoalan UMKM bukan hanya soal kemampuan produksi atau pemasaran. Pelaku usaha juga membutuhkan ekosistem yang menghubungkan pengetahuan, mentor, pembiayaan, jaringan, dan pasar.

Ketua Umum BPC HIPMI Kota Malang Hendi Suryo Leksono menegaskan, organisasi pengusaha harus mampu menghadirkan manfaat yang lebih luas di luar kepentingan internal anggota.

“HIPMI harus bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pengusaha tidak hidup sendiri. Pertumbuhan usaha juga harus menciptakan manfaat bagi lingkungan.” terang Hendi

Hendi menilai pengusaha memiliki dua peran sekaligus: sebagai economic actor yang menciptakan pertumbuhan ekonomi dan social actor yang ikut membangun lingkungan sosial di sekitarnya.

Posisi BPC HIPMI di tingkat kota, kata dia, juga memungkinkan organisasi membaca persoalan ekonomi secara lebih dekat dan mempertemukan berbagai sumber daya untuk menghasilkan solusi yang konkret.

Sementara itu, Teguh Agung Hartanto melihat Jakarta Pusat memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi nasional. Namun, tingginya aktivitas ekonomi tetap harus diikuti upaya memperluas manfaat kepada masyarakat.

“HIPMI tidak hanya bicara tentang bagaimana anggota kita tumbuh. Kita juga harus berpikir bagaimana ekosistem usaha di sekitar kita dapat tumbuh bersama.” ujar Teguh

Data BPS mencatat persentase penduduk miskin Jakarta Pusat pada 2024 sebesar 4,63 persen, atau sekitar 42.330 orang. Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa pertumbuhan ekonomi membutuhkan keterlibatan lebih luas dari berbagai sektor, termasuk dunia usaha.

Kolaborasi Malang dan Jakarta Pusat sekaligus membuka ruang pertukaran pengalaman antarwilayah. Malang memiliki basis pelaku usaha dan potensi ekonomi daerah, sedangkan Jakarta Pusat menawarkan akses terhadap jejaring bisnis dan pusat aktivitas ekonomi nasional.

Hendi dan Teguh, yang sama-sama berkecimpung di sektor food and beverage (F&B), juga memanfaatkan pertemuan untuk bertukar pengalaman mengenai dinamika pasar dan peluang pengembangan bisnis.

Bagi Hendi, kekuatan kolaborasi justru terletak pada kemampuan menghubungkan potensi lokal dengan jaringan yang lebih luas.

“Pengusaha boleh tumbuh dari daerah, tetapi manfaatnya tidak harus berhenti di daerah. Kita bisa saling belajar, berbagi jaringan, dan membuka peluang kolaborasi.” jelasnya

Program ini diharapkan menjadi model kolaborasi lintas kota yang tidak berhenti pada agenda seremonial. Ukuran keberhasilannya akan ditentukan oleh seberapa jauh UMKM peserta mampu memperkuat bisnis, mendapatkan akses pembiayaan, memperluas pasar, dan membuka peluang menuju pasar ekspor.

Bagi Hendi, pertumbuhan bisnis pada akhirnya harus menghasilkan efek berantai.

“Ukuran keberhasilan pengusaha bukan hanya seberapa besar perusahaan kita tumbuh, tetapi juga seberapa banyak orang lain yang ikut tumbuh karena keberadaan kita.” ungkapnya (dunk)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.