Mendalankulon Tempo Doeloe, Ketika Tradisi Menjadi Energi untuk Membangun Desa

oleh -76 Dilihat
oleh
Screenshot
banner 468x60

Kabarkarya.com | Malang – Pembangunan desa tidak selalu harus dimaknai dengan pembangunan fisik. Di balik jalan, gedung, dan infrastruktur, ada hal yang jauh lebih penting untuk terus diperkuat, yakni manusia, kebersamaan, kreativitas, serta karakter masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, M.M. saat menghadiri kegiatan Mendalankulon Tempo Doeloe di Desa Mendalanwangi, Kecamatan Wagir, Kamis (3/9) malam.

banner 336x280

Menurut Bupati, kegiatan berbasis masyarakat seperti Mendalankulon Tempo Doeloe memiliki manfaat yang jauh lebih luas dibanding sekadar menghadirkan hiburan.

Kegiatan tersebut menjadi ruang bersama untuk memperkuat solidaritas warga sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dan tradisi lokal.

“Atas nama pribadi dan Pemerintah Kabupaten Malang, saya memberikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh panitia, Karang Taruna Adikara Mandala, serta seluruh masyarakat Mendalankulon yang telah berinisiatif menyelenggarakan kegiatan ini,” ujar Abah Sanusi sapaan akrab Bupati.

Ia menilai semangat masyarakat dalam menggelar kegiatan tersebut menunjukkan kuatnya budaya guyub rukun dan gotong royong. Nilai-nilai itu, kata dia, menjadi modal sosial yang penting dalam mendorong kemajuan daerah.

“Mendalankulon Tempo Doeloe bukan sekadar acara hiburan. Ini adalah ruang untuk merawat kebersamaan, melestarikan tradisi, mengenalkan kekayaan budaya, sekaligus menggerakkan potensi ekonomi masyarakat,” tegasnya.

Abah Sanusi juga menyoroti makna kata Tempo Doeloe. Menurutnya, perjalanan menuju masa depan tidak boleh membuat masyarakat kehilangan identitas dan melupakan akar sejarahnya.

Kemajuan teknologi dan perubahan zaman, lanjutnya, harus berjalan beriringan dengan upaya mempertahankan nilai luhur, budaya, serta kearifan lokal yang diwariskan para pendahulu.

Festival kuliner tradisional, misalnya, bukan hanya menghadirkan makanan khas kepada masyarakat, tetapi sekaligus menjadi sarana memperkenalkan kembali kekayaan pangan lokal.

Begitu pula pertunjukan seni dan kompetisi tari yang dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus mencintai budayanya sendiri.

“Tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga mampu mendorong perekonomian warga, UMKM, pelaku kuliner, seniman, serta para pelaku ekonomi kreatif lokal,” jelasnya.

Lebih jauh, Sanusi menempatkan pemuda sebagai salah satu kekuatan penting dalam pembangunan Kabupaten Malang.

Generasi muda didorong tidak sekadar menjadi penonton, tetapi tampil sebagai penggerak dengan membawa gagasan, energi, dan inovasi di tengah masyarakat.

Namun, inovasi tersebut harus tetap berpijak pada semangat gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

“Jangan pernah merasa bahwa membangun daerah hanya menjadi tugas pemerintah. Pembangunan Kabupaten Malang membutuhkan peran serta seluruh elemen masyarakat, termasuk para pemuda,” tandasnya.

Mendalankulon Tempo Doeloe pun menjadi gambaran bahwa menjaga tradisi tidak berarti menolak perubahan.

Sebaliknya, budaya dan kebersamaan dapat menjadi kekuatan untuk menciptakan masyarakat yang lebih kreatif, mandiri, dan mampu bergerak mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. (dunk)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.