Memasuki Tahun Baru 1448 H: Harmoni Sains dan Spiritualitas dalam Menatap Hilal Muharram

oleh -38 Dilihat
oleh
Dosen Ilmu Falak dan Astronomi Islam UIN Madura, Prof. Dr. H. Achmad Mulyadi, M.Ag.,
banner 468x60

Kabarkarya.com | Pamekasan – Pergantian tahun dalam kalender Islam bukan sekadar momentum refleksi spiritual, tetapi juga peristiwa ilmiah yang sarat dengan ketelitian ilmu falak. Saat umat Islam bersiap meninggalkan tahun 1447 Hijriah dan menyambut 1448 Hijriah, aspek astronomi dalam penentuan awal tahun menjadi kajian yang menarik.

Dosen Ilmu Falak dan Astronomi Islam UIN Madura, Prof. Dr. H. Achmad Mulyadi, M.Ag., menjelaskan bahwa kalender Hijriah memiliki landasan ilmiah yang kuat karena didasarkan pada peredaran Bulan mengelilingi Bumi.

banner 336x280

“Penentuan awal bulan Hijriah selalu berkaitan dengan fenomena astronomis yang dapat dihitung secara ilmiah dan diamati secara empiris. Bulan baru dimulai ketika Bulan memasuki fase awal setelah terjadinya konjungsi (ijtima’) dan memungkinkan terlihat sebagai hilal,” ujarnya.

Berdasarkan data hisab astronomis, ijtima’ akhir Dzulhijjah 1447 H diperkirakan terjadi pada Senin, 15 Juni 2026 pukul 09.54 WIB. Peristiwa ini menandai berakhirnya satu siklus sinodis Bulan sekaligus membuka peluang munculnya hilal Muharram.

Saat matahari terbenam pada hari yang sama, posisi hilal di Indonesia bervariasi. Tinggi hilal berkisar antara 0°55′ di Merauke hingga 4°01′ di Sabang, sedangkan elongasi berada pada rentang 5°38′ hingga 6°59′.

Prof. Achmad menjelaskan, Indonesia menggunakan Kriteria MABIMS yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.

“Di wilayah timur seperti Merauke, posisi hilal masih berada di bawah kriteria MABIMS. Namun, di sebagian wilayah barat, khususnya Aceh dan sekitarnya, hilal telah memenuhi bahkan melampaui batas minimal,” jelasnya.

Meski peluang keterlihatan hilal tergolong tipis, Indonesia menganut prinsip wilayatul hukmi, yakni hasil yang memenuhi kriteria di salah satu wilayah dapat menjadi dasar penetapan secara nasional.

“Berdasarkan hasil hisab, pada Senin, 15 Juni 2026 saat maghrib, hilal Muharram 1448 H telah memenuhi kriteria MABIMS di sebagian wilayah Indonesia. Karena itu, 1 Muharram 1448 H berpotensi dan dapat ditetapkan jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia menilai perkembangan ilmu falak modern menunjukkan tidak adanya pertentangan antara agama dan sains dalam Islam. Penentuan kalender Hijriah justru menjadi bentuk sinergi antara wahyu, akal, dan pengalaman empiris melalui hisab, rukyat, serta kriteria visibilitas hilal.

Teknologi seperti teleskop, kamera CCD, dan perangkat lunak astronomi turut meningkatkan akurasi pengamatan. Namun, yang terpenting, kalender Hijriah tetap menjadi instrumen pemersatu umat.

Menutup penjelasannya, Prof. Achmad mengajak umat Islam menjadikan pergantian tahun sebagai momentum muhasabah dan pembaruan diri, sebagaimana semangat hijrah Nabi Muhammad SAW.

“Mengakhiri Tahun 1447 H hendaknya menjadi sarana evaluasi perjalanan hidup. Sementara menyambut Tahun Baru 1448 H adalah momentum memperkuat semangat pembaruan intelektual, moral, sosial, dan spiritual,” pungkasnya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.