Ludruk Tak Boleh Mati, Bupati Sanusi Tegaskan Budaya Lokal Harus Jadi Kekuatan Kabupaten Malang

oleh -106 Dilihat
oleh
Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, M.M., menghadiri Pagelaran Kesenian Ludruk Budhi Wijaya di Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso
banner 468x60

Kabarkarya.com | Malang  – Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat, kesenian tradisional ludruk masih membuktikan dirinya sebagai denyut budaya yang hidup di tengah masyarakat Kabupaten Malang.

Pesan itu mengemuka saat Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, M.M., didampingi istrinya yang juga Ketua TP PKK Kabupaten Malang, Hj. Anis Zaidah Sanusi, menghadiri Pagelaran Kesenian Ludruk Budhi Wijaya di Desa Donowarih, Kecamatan Karangploso, Jumat (7/8) malam.

banner 336x280

Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Malang tersebut bukan sekadar menghadiri pertunjukan rakyat. Lebih dari itu, menjadi penegasan bahwa pemerintah daerah menempatkan kesenian tradisional sebagai bagian penting dari pembangunan daerah dan identitas masyarakat.

Ludruk malam itu tampil bukan sebagai sekadar tontonan. Ia menjadi ruang perjumpaan lintas generasi sekaligus bukti bahwa budaya lokal masih memiliki tempat kuat di hati masyarakat.

Antusiasme warga terlihat sejak awal pertunjukan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua memadati lokasi pagelaran. Masyarakat Desa Donowarih dan sejumlah wilayah sekitar datang untuk menikmati kesenian khas Jawa Timur yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.

Bupati Sanusi memberikan apresiasi tinggi kepada para seniman Ludruk Budhi Wijaya yang dinilainya konsisten menjaga kesenian tradisional agar tidak kehilangan panggung di tengah perubahan zaman.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Malang, saya menyampaikan penghargaan dan apresiasi kepada seluruh seniman Ludruk Budhi Wijaya, Pemerintah Desa Donowarih, serta seluruh masyarakat yang terus menjaga dan melestarikan kesenian tradisional ini. Ludruk merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, nilai pendidikan, sekaligus menjadi media pemersatu masyarakat yang harus kita lestarikan bersama,” ujar Sanusi.

Menurut Sanusi, tantangan pelestarian budaya saat ini jauh lebih besar. Perkembangan teknologi informasi telah mengubah pola hiburan masyarakat, khususnya generasi muda. Jika tidak dirawat dan diberi ruang, kesenian tradisional berpotensi semakin jauh dari generasi penerus.

Karena itu, menurutnya, ludruk harus dipandang bukan sebagai kesenian masa lalu, melainkan sebagai kekuatan budaya yang dapat terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

“Pembangunan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Kita juga harus menjaga jati diri, karakter dan nilai-nilai budaya masyarakat. Karena daerah yang maju bukan hanya daerah yang infrastrukturnya berkembang, tetapi juga masyarakatnya tetap memiliki identitas dan karakter,” tegasnya.

Generasi Muda Jangan Sampai Kehilangan Akar Budaya

Sanusi secara khusus mengajak generasi muda Kabupaten Malang untuk tidak menjadikan perkembangan teknologi sebagai alasan meninggalkan budaya daerah.

Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan kesenian lokal kepada masyarakat yang lebih luas.

Ia berharap generasi muda tidak berhenti sebagai penonton, tetapi mulai terlibat dalam ekosistem kesenian, baik sebagai pelaku, kreator, maupun pihak yang ikut mempromosikan budaya lokal melalui berbagai platform digital.

“Kita ingin generasi muda tidak hanya mengenal budaya modern, tetapi juga bangga terhadap budaya daerahnya sendiri. Dengan demikian, warisan budaya seperti ludruk akan terus hidup, berkembang, dan menjadi kebanggaan Kabupaten Malang,” imbuhnya.

Bagi Pemerintah Kabupaten Malang, keberadaan kelompok kesenian seperti Ludruk Budhi Wijaya merupakan aset sosial sekaligus budaya yang harus mendapatkan ruang tumbuh.

Sanusi menegaskan pemerintah daerah akan terus memberikan dukungan terhadap kegiatan seni dan budaya yang berkembang di tengah masyarakat, baik melalui agenda kebudayaan, festival, maupun berbagai kegiatan masyarakat.

Dukungan tersebut dinilai penting agar para seniman memiliki ruang untuk berekspresi, berkarya, sekaligus melakukan regenerasi.

Ludruk sebagai Perekat Masyarakat

Pagelaran Ludruk Budhi Wijaya juga memperlihatkan fungsi lain dari kesenian tradisional: menjadi ruang bertemunya pemerintah dengan masyarakat secara lebih dekat dan egaliter.

Di tengah pertunjukan, masyarakat tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga ruang silaturahmi dan kebersamaan. Pemerintah hadir di tengah rakyat, sementara para seniman mendapatkan dukungan moral untuk terus mempertahankan panggung budaya.

Bupati Sanusi menilai seni budaya memiliki peran strategis dalam memperkuat karakter masyarakat sekaligus menjaga kohesi sosial.

Lebih jauh, kekayaan budaya tersebut juga dapat dikembangkan sebagai bagian dari potensi pariwisata Kabupaten Malang. Seni pertunjukan tradisional, apabila dikemas secara kreatif dan konsisten, dapat menjadi daya tarik wisata berbasis budaya sekaligus membuka ruang ekonomi bagi para pelaku seni dan masyarakat.

Karena itu, pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada para seniman. Pemerintah, masyarakat, generasi muda, akademisi, pelaku pariwisata hingga dunia usaha perlu membangun kolaborasi agar kesenian tradisional memiliki masa depan.

Hadir dalam pagelaran tersebut antara lain Kepala Dinas Tenaga Kerja Kabupaten Malang, Kepala Satpol PP Kabupaten Malang, jajaran Forkopimcam Karangploso, Kepala Desa Donowarih beserta perangkat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, para pelaku seni dan budaya, serta sejumlah kepala perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten Malang.

Pagelaran Ludruk Budhi Wijaya akhirnya menjadi lebih dari sekadar pentas seni. Ia menjadi pengingat bahwa di tengah derasnya modernisasi, Kabupaten Malang tidak boleh kehilangan akar budayanya.

Sebab ketika ludruk tetap dimainkan, seniman tetap berkarya, dan masyarakat tetap datang menyaksikan, maka tradisi itu belum mati.

Justru di sanalah budaya terus hidup—dari panggung ke panggung, dari generasi ke generasi, dan dari masyarakat kepada masa depan. (dunk)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.