Kabarkarya.com | Kota Malang – Sekali lengah di ruang digital, kerugian bisa datang dalam hitungan menit. Data pribadi dicuri, rekening terkuras, akun diretas, hingga terjerat pinjaman online ilegal dan judi online.
Ancaman tersebut menjadi perhatian Wakapolresta Malang Kota AKBP Alex Sandy Siregar saat membekali mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya dengan strategi menghadapi kejahatan digital, Jumat (14/8/2026).
Dalam kegiatan bertajuk “Tameng Digital Mahasiswa: Mitigasi Cerdas Menghadapi Jerat Kejahatan Digital Masa Kini” di Jalan Veteran, Kota Malang, Alex tidak sekadar mengingatkan mahasiswa agar berhati-hati. Ia mendorong mereka membangun kebiasaan kritis sebelum mempercayai maupun merespons informasi di internet.
Menurutnya, perkembangan teknologi telah mengubah hampir seluruh aktivitas mahasiswa. Pembelajaran, komunikasi, transaksi hingga aktivitas kreatif kini sangat bergantung pada ruang digital.
Namun, di balik kemudahan itu terdapat celah yang dimanfaatkan pelaku kejahatan.
“Teknologi bukan musuh. Yang harus kita cegah adalah penyalahgunaan teknologi. Mahasiswa harus menjadi pengguna digital yang cerdas, kritis dan bertanggung jawab agar tidak menjadi korban kejahatan siber,” ujar Alex.
Mantan Kapolres Lumajang itu mengungkapkan, salah satu kunci menghadapi kejahatan siber adalah tidak mudah terpancing.
Pelaku biasanya membangun situasi seolah-olah korban harus segera mengambil keputusan. Modusnya beragam, mulai dari pemberitahuan rekening bermasalah, hadiah, tawaran pekerjaan, investasi dengan keuntungan fantastis hingga permintaan transfer mendesak.
Alex menekankan, semakin besar tekanan yang diberikan pelaku, semakin penting bagi calon korban untuk menghentikan respons spontan.
“Semakin seseorang dibuat panik atau didesak untuk segera bertindak, semakin penting untuk berhenti, memeriksa dan melakukan verifikasi,” katanya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa agar tidak langsung percaya hanya karena seseorang mengaku sebagai pihak yang dikenal.
Pelaku bisa menyamar sebagai teman, keluarga, dosen, petugas bank, kurir, perusahaan maupun institusi tertentu.
Karena itu, identitas pengirim harus diverifikasi melalui saluran resmi sebelum korban mengambil keputusan.
Alex juga menempatkan perlindungan data pribadi sebagai bagian penting dari pertahanan digital.
Mahasiswa diminta tidak sembarangan membagikan informasi sensitif, termasuk kode keamanan akun.
“Jangan pernah memberikan kode keamanan kepada orang lain hanya karena ada yang mengaku sebagai petugas atau pihak tertentu. Verifikasi melalui kanal resmi sebelum mengambil tindakan,” tegasnya.
Menurutnya, kelengahan kecil dalam menjaga data dapat membuka pintu bagi berbagai bentuk kejahatan digital.
Dalam kesempatan tersebut, Alex turut menyoroti bahaya pinjaman online ilegal dan judi online yang semakin mudah ditemukan melalui ruang digital.
Pinjol, kata dia, kerap menawarkan kemudahan dan kecepatan pencairan. Namun, mahasiswa tetap harus mempertimbangkan kemampuan membayar serta memastikan layanan yang digunakan legal dan berizin.
“Jangan mengambil utang hanya untuk memenuhi gaya hidup. Kemampuan membayar harus menjadi pertimbangan utama sebelum mengambil keputusan finansial,” ujarnya.
Sementara judi online, menurut Alex, sering dipromosikan dengan iming-iming modal kecil, bonus besar dan keuntungan cepat.
Persoalan semakin serius ketika seseorang berusaha mengejar kekalahan dengan kembali bermain atau bahkan mencari utang baru.
Alex meminta mahasiswa tidak terjebak pada narasi “menang cepat” yang dibangun untuk menarik pengguna.
Untuk memperkuat kewaspadaan, Alex mengajak mahasiswa menerapkan prinsip sederhana dalam setiap aktivitas digital: berhenti, periksa, verifikasi, kemudian bertindak.
Kebiasaan tersebut dinilai penting agar mahasiswa tidak mengambil keputusan hanya karena terbawa emosi, rasa takut, rasa penasaran atau iming-iming keuntungan.
Bagi mahasiswa yang sudah menjadi korban, Alex meminta agar tidak panik dan tidak menghilangkan bukti.
Seluruh jejak digital, mulai dari tangkapan layar, nomor telepon, rekening, username, bukti transfer, tautan, percakapan hingga dokumen terkait harus disimpan sebagai bahan penting untuk pelaporan.
Alex berharap edukasi tersebut mampu membentuk mahasiswa yang tidak hanya aktif di dunia digital, tetapi juga memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya.
“Cerdas menggunakan teknologi merupakan bagian dari menjaga diri dan menjaga lingkungan kampus. Jangan sampai teknologi yang seharusnya membantu justru merugikan masa depan kita,” pungkasnya.
Pesan utama yang dibawa dalam edukasi itu jelas: jangan buru-buru percaya, jangan mudah terpancing, dan jangan mengambil keputusan sebelum melakukan verifikasi.
Dengan tameng literasi dan kewaspadaan digital yang kuat, mahasiswa diharapkan mampu menjadikan teknologi sebagai alat untuk memperluas pengetahuan, menghasilkan karya dan membangun masa depan, bukan menjadi pintu masuk bagi kejahatan. (dunk)










