Hendi Suryo Leksono Buka Jalan Pengusaha Malang Masuk Panggung Bisnis Nasional

oleh -66 Dilihat
oleh
Ketua Umum BPC HIPMI Kota Malang, Hendi Suryo Leksono, dalam pertemuannya dengan Ketua Umum BPC HIPMI Jakarta Selatan, Dzaki Adinda, bersama Tokoh Himpi Kota Malang Djoko Prihatin di Jakarta
banner 468x60

Kabarkarya.com | Jakarta — Pengusaha daerah didorong untuk berhenti menjadi sekadar pasar dan mulai mengambil posisi sebagai pemain dalam ekosistem bisnis nasional. Pesan tegas itu dibawa Ketua Umum BPC HIPMI Kota Malang, Hendi Suryo Leksono, dalam pertemuannya dengan Ketua Umum BPC HIPMI Jakarta Selatan, Dzaki Adinda, di Jakarta.

Pertemuan dua pimpinan organisasi pengusaha muda tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi. Di balik pertemuan itu, muncul langkah untuk membangun konektivitas bisnis antara Malang dan Jakarta, membuka akses jaringan, pasar, investasi hingga peluang masuk ke sektor-sektor industri strategis.

banner 336x280

Bagi Hendi, potensi ekonomi daerah tidak boleh hanya dinikmati oleh pihak lain. Pengusaha lokal harus memiliki keberanian memperluas jangkauan dan masuk dalam rantai bisnis yang lebih besar.

“Pengusaha daerah jangan hanya menjadi pasar. Kita harus mampu menjadi pemain. Potensi usaha di daerah sangat besar, tetapi untuk naik kelas diperlukan akses, jaringan, dan keberanian untuk masuk ke ekosistem bisnis nasional,” tegas Hendi Suryo Leksono.

Menurutnya, salah satu persoalan yang masih dihadapi banyak pelaku usaha daerah adalah keterbatasan akses terhadap jaringan strategis. Produk dan potensi mungkin tersedia, tetapi tanpa koneksi terhadap pasar nasional, investor dan mitra bisnis, pertumbuhan usaha akan berjalan lebih lambat.

Hendi menilai Jakarta masih menjadi salah satu simpul utama bisnis nasional. Karena itu, membangun konektivitas dengan ekosistem usaha di ibu kota menjadi langkah penting bagi pengusaha daerah yang ingin melakukan ekspansi.

Namun, ia menegaskan, masuk ke jaringan bisnis Jakarta bukan berarti pengusaha Malang harus meninggalkan daerahnya.

Daerah tetap menjadi fondasi. Jakarta menjadi pintu untuk memperluas permainan.

“Pengusaha daerah tidak harus meninggalkan daerahnya. Kekuatan daerah tetap menjadi fondasi, sementara Jakarta bisa menjadi salah satu pintu untuk memperluas jaringan dan pasar,” ujar Hendi.

Dalam pertemuan tersebut, BPC HIPMI Kota Malang dan BPC HIPMI Jakarta Selatan membahas peluang kolaborasi yang lebih konkret, termasuk membuka akses bagi pengusaha daerah untuk membangun kehadiran bisnis di Jakarta.

Salah satu peluang yang mengemuka adalah kolaborasi dengan Mantra Group, perusahaan holding milik Dzaki Adinda. Kerja sama tersebut membuka ruang bagi pelaku usaha daerah untuk memperluas jaringan dan membangun struktur bisnis sebagai bagian dari strategi ekspansi.

Ketua Umum BPC HIPMI Jakarta Selatan, Dzaki Adinda, menegaskan kolaborasi antara pengusaha daerah dan Jakarta harus menghasilkan dampak nyata.

Menurutnya, pertemuan antarpengusaha tidak boleh berhenti pada seremoni, foto bersama atau sekadar pertukaran kontak.

“Kita ingin hubungan antara pengusaha daerah dan Jakarta tidak berhenti pada networking. Harapannya, konektivitas ini dapat membuka akses pasar, mempertemukan pengusaha dengan mitra strategis, dan menghasilkan kolaborasi bisnis yang konkret,” kata Dzaki.

Ia melihat Indonesia memiliki kekuatan ekonomi yang tersebar di berbagai daerah. Setiap wilayah memiliki sumber daya, karakter dan keunggulan bisnis sendiri.

Tantangannya adalah bagaimana seluruh potensi tersebut dapat tersambung dengan jaringan yang lebih luas.

“Setiap daerah memiliki kekuatan masing-masing. Jakarta memiliki ekosistem dan akses yang berbeda. Kalau potensi daerah dan jaringan nasional bisa dipertemukan, akan muncul peluang yang lebih besar untuk dikembangkan bersama,” ujarnya.

Tak hanya membicarakan jaringan pasar dan investasi, pertemuan tersebut juga menyoroti peluang di sektor industri strategis, terutama pertambangan dan hilirisasi.

Hendi menilai masih banyak peluang yang belum digarap secara maksimal oleh pengusaha daerah, khususnya dalam rantai pasok industri pertambangan.

Menurutnya, peluang bisnis di sektor tambang tidak hanya terbuka bagi pemilik konsesi.

Ekosistemnya jauh lebih luas, mulai dari teknologi, jasa, logistik, konstruksi, alat berat, pengolahan hingga berbagai sektor pendukung lainnya.

“Ekosistem tambang sangat besar dan masih banyak celah yang bisa diisi. Yang dibutuhkan adalah generasi muda dengan wawasan Nusantara, yang mampu melihat potensi dari berbagai daerah dan menghubungkannya dengan kebutuhan industri nasional,” tegas Hendi.

Ia menambahkan, pengusaha muda tidak perlu berpikir bahwa untuk masuk ke industri pertambangan harus terlebih dahulu menjadi pemilik tambang.

Dalam konteks itulah, program MINERS yang digagas BPC HIPMI Jakarta Selatan dinilai dapat menjadi salah satu ruang untuk mempertemukan pengusaha dengan kebutuhan industri, investor dan berbagai peluang bisnis.

“MINERS menarik karena melihat pertambangan sebagai sebuah ekosistem. Ada banyak ruang yang dapat diisi pengusaha nasional, termasuk pengusaha dari daerah. Business matching menjadi penting agar kebutuhan industri dapat bertemu dengan kemampuan pengusaha,” ujar Hendi.

Dzaki menambahkan, MINERS diarahkan bukan hanya sebagai ruang diskusi, tetapi sebagai jembatan untuk menghasilkan kerja sama bisnis.

“MINERS kami dorong bukan sekadar menjadi forum diskusi. Kami ingin mempertemukan kebutuhan industri dengan kemampuan pengusaha sehingga dapat muncul business matching, kolaborasi, investasi, dan peluang usaha baru,” jelasnya.

Bagi Hendi Suryo Leksono, kolaborasi dengan HIPMI Jakarta Selatan merupakan bagian dari langkah yang lebih besar: membangun pengusaha Malang yang tidak hanya kuat di kandang sendiri, tetapi mampu bersaing dan mengambil peran dalam ekonomi nasional.

Ia ingin pengusaha daerah tetap berpijak pada kekuatan lokal, namun memiliki orientasi yang jauh lebih luas.

“Pengusaha boleh tumbuh dari daerah, tetapi cara berpikirnya harus Nusantara. Kita ingin pengusaha Malang mampu membawa potensi daerah ke pasar nasional dan mengambil bagian dalam rantai ekonomi Indonesia,” pungkas Hendi.

Pertemuan tersebut turut dihadiri senior dan tokoh HIPMI Kota Malang, Djoko Prihatin atau yang akrab disapa Rich Djoe.

Kolaborasi HIPMI Kota Malang dan HIPMI Jakarta Selatan kini membawa satu pesan kuat: era pengusaha daerah hanya menjadi pasar harus mulai ditinggalkan.

Dengan jaringan yang semakin terbuka, akses ke pusat bisnis nasional dan dorongan untuk masuk ke sektor-sektor strategis, pengusaha Malang didorong untuk bergerak lebih jauh.

Tumbuh dari daerah, memperluas jaringan ke Jakarta, lalu mengambil posisi sebagai pemain dalam panggung ekonomi nasional. (dunk)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.