Hariust Agung: Menyalakan Api Gitar Malang, dari Panggung Rock hingga Menembus Pasar Dunia

oleh -39 Dilihat
oleh
banner 468x60

Kabarkarya.com | Malang — Bagi sebagian orang, gitar hanyalah alat musik. Namun bagi Hariust Agung, gitar adalah bahasa, ruang berekspresi sekaligus jalan panjang untuk melahirkan karya dan generasi baru musisi.

Perjalanan itu dimulai sejak kecil. Hariust tumbuh di tengah keluarga yang sangat dekat dengan dunia seni. Musik tradisional seperti kulintang dan angklung menjadi bagian dari lingkungan masa kecilnya.

banner 336x280

Sang keluarga bahkan dikenal sebagai pembuat alat musik tradisional, sekaligus aktif dalam band keroncong dan band instansi. Dari lingkungan itulah naluri bermusiknya terbentuk.

Memasuki masa remaja, Hariust aktif dalam paduan suara sekolah dan operet. Titik balik terjadi ketika sang ibu membelikannya sebuah gitar pada era 1990-an.

Tidak sekadar memberikan instrumen, sang ibu juga mengenalkan teori dasar dan permainan gitar.

Koes Plus, God Bless, Bee Gees hingga Chrisye menjadi santapan telinga yang membentuk fondasi musikalnya.
Saat SMA, Hariust sempat berdiri sebagai vokalis.

Namun ketertarikannya terhadap instrumen membuatnya beralih menjadi bassist. Lagu-lagu rock dari Jamrud, Boomerang, Voodoo hingga Power Metal menjadi materi yang mengiringi proses pencarian karakter bermusiknya.

Ia mulai memburu referensi musik yang lebih kompleks dan serius mendalami electric guitar. Radio-radio di Malang dan Surabaya menjadi salah satu pintu baginya untuk mengenal musik yang lebih luas.

Dari sana, nama-nama besar seperti Yngwie Malmsteen, Joe Satriani, Steve Vai, Dream Theater, Helloween hingga Edane mulai menjadi bagian dari perjalanan musikalnya.

Yngwie Malmsteen dan Edane kemudian menjadi dua pengaruh yang paling kuat. Kecepatan, teknik shred, permainan lead dan karakter rock yang agresif perlahan menjadi identitas permainan Hariust.

Memasuki era 2000-an, Hariust aktif mengikuti berbagai kompetisi band di Jawa dan Bali. Sejumlah penghargaan, termasuk The Best Bass dan The Best Guitar, berhasil diraihnya.
Tetapi kompetisi ternyata bukan garis akhir.

Sekitar 2005, Hariust mulai mengalihkan energi kreatifnya untuk menciptakan karya instrumental. Ia mencoba sesuatu yang berbeda: membawa lagu-lagu nasional dan daerah Indonesia ke dalam warna rock dan orchestral electric guitar.

Syukur, Bendera, Tanah Airku, 17 Agustus hingga Yamko Rambe Yamko menjadi bagian dari karya yang digarapnya.

Pendekatan itu menjadi cara Hariust mempertemukan dua dunia—semangat musik rock modern dengan kekayaan lagu Indonesia.

Kini, sebuah album instrumental electric guitar orchestra yang khusus mengangkat lagu-lagu nasional Indonesia tengah dipersiapkan.

Sejumlah karya pop ciptaannya juga menunggu waktu untuk dirilis.

Yang membuat perjalanan Hariust menarik bukan hanya soal kemampuan memainkan gitar. Ia memilih membagi pengetahuan dan pengalamannya kepada generasi berikutnya.

Pada 2012, Hariust bersama sejumlah gitaris dan pelaku industri musik turut menginisiasi MAGIC (Malang Guitar Community). Komunitas ini kemudian menjadi ruang berkumpul, bertukar ilmu dan berkarya bagi gitaris di Malang.

Tiga tahun berselang, semangat itu diperluas melalui Malang Bergitar, komunitas yang ia dirikan untuk mendorong lahirnya gitaris-gitaris muda.

Dari ruang komunitas inilah banyak talenta muda mendapat kesempatan belajar dan tampil. Nama-nama seperti Yasha Andriano, Oka, Gisel, Joe dan sejumlah gitaris muda lainnya ikut tumbuh dalam ekosistem tersebut.

Bagi Hariust, gitaris muda tidak cukup hanya bisa bermain cepat.
Mereka harus berani tampil, berani menciptakan karya dan memiliki karakter.

Di tengah perubahan industri musik, Hariust juga beradaptasi dengan dunia digital. Melalui kanal Joe Guitarian, ia aktif membuat konten seputar gitar, mulai dari lesson, teknik permainan hingga tips bagi para gitaris.

Aktivitasnya bahkan berkembang ke ranah bisnis. Melalui brand HRS Guitar, Hariust memproduksi dan memperdagangkan gitar yang pemasarannya telah menjangkau pasar luar negeri.

Musik juga bukan satu-satunya bidang yang digelutinya. Hariust aktif sebagai pengajar musik, instruktur marching band, designer 3D arsitektural hingga konseptor wisata.

Kini, ia kembali menyiapkan babak baru. Sebuah proyek duo dengan konsep rock-pop industrial dan instrumental gitar tengah menjadi fokusnya.

Namun satu hal tidak berubah: karakter speed, shred dan metal tetap menjadi warna yang melekat kuat dalam permainan gitar Hariust.

Perjalanan panjang tersebut memperlihatkan sosok Hariust bukan sekadar sebagai gitaris yang mengejar teknik.

Ia adalah musisi yang membangun ekosistem, mengajar generasi muda, menciptakan karya dan mencoba membawa gitar dari panggung lokal menuju ruang yang lebih luas.

Dari keluarga seniman, tumbuh di panggung rock, membangun komunitas gitaris, hingga membawa HRS Guitar ke pasar luar negeri—Hariust Agung masih terus memainkan nada berikutnya. (dunk)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.