Bakorwil Malang Bidik Kopi Amstirdam Jadi Kekuatan Ekonomi Kawasan

oleh -47 Dilihat
oleh
Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, dalam Workshop Peningkatan Kualitas Produk Communal Branding
banner 468x60

Kabarkarya.com | Malang — Dari lereng perkebunan di Malang Selatan, Kopi Amstirdam punya peluang untuk melangkah lebih jauh. Bukan hanya dijual sebagai biji kopi atau produk olahan, tetapi dibangun menjadi brand bersama yang membawa nama kawasan hingga pasar nasional dan internasional.

Gagasan itu disampaikan Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, dalam Workshop Peningkatan Kualitas Produk Communal Branding yang digelar Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur di Kantor Bakorwil III Malang, Kamis (24/9/2026).

banner 336x280

Amstirdam merupakan identitas kopi dari empat wilayah, yakni Ampelgading, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo dan Dampit. Menurut Asep, kekuatan tersebut perlu disatukan melalui branding, kualitas produk dan tata kelola usaha yang lebih profesional.

“Kita ingin kopi Amstirdam tidak berhenti sebagai komoditas. Amstirdam harus bisa menjadi identitas, dengan branding bersama, standar kualitas yang kuat dan tata kelola profesional, bahkan mampu go international,” ujar Asep.

Ia menegaskan, membangun brand tidak cukup dengan membuat logo dan kemasan. Yang jauh lebih penting adalah membangun rantai ekonomi dari petani hingga pasar.

Petani, koperasi, UMKM, pengolah pascapanen, perguruan tinggi, dunia usaha dan pemerintah perlu berada dalam satu ekosistem agar nilai tambah kopi tidak berhenti di tingkat produksi.

Asep juga mengingatkan agar pengembangan Amstirdam tidak dilakukan dengan pendekatan seragam. Karakter geografis, aksesibilitas, potensi sumber daya serta kondisi sosial masyarakat di setiap wilayah harus dipahami terlebih dahulu.

“Kalau kita ingin membangun sebuah kawasan, jangan hanya melihat produknya. Kita harus memahami wilayahnya dan memahami masyarakatnya. Yang paling penting adalah menemukan real needs masyarakat,” katanya.

Menurut Asep, keterlibatan masyarakat menjadi kunci. Petani dan pelaku usaha lokal harus menjadi subjek yang ikut menentukan arah pengembangan, sehingga muncul rasa memiliki dan keberlanjutan.

Bakorwil III Malang, lanjutnya, akan mendorong kolaborasi lintas sektor agar potensi Kopi Amstirdam terhubung dengan teknologi, pembiayaan, pengetahuan, kebijakan dan pasar.

“Target akhirnya bukan sekadar kopi kita dikenal. Tetapi bagaimana Kopi Amstirdam menciptakan nilai tambah bagi petani, koperasi, UMKM dan masyarakat. Dari lokal, naik kelas menjadi regional, nasional, bahkan internasional,” pungkasnya.

Jika ekosistem tersebut terbangun, Amstirdam tidak lagi sekadar nama kawasan penghasil kopi. Ia bisa menjadi identitas bersama yang mengubah potensi kopi menjadi kekuatan ekonomi masyarakat. (dunk)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.