Asep Kusdinar Tekankan Integrasi Desa-Kota Menuju Malang Raya Megapolitan

oleh -24 Dilihat
oleh
Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, saat menjadi dosen praktisi
banner 468x60

Kabarkarya.com | Kota Malang – Integrasi ekonomi desa dan kota menjadi kunci mewujudkan Malang Raya sebagai kawasan megapolitan yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Pembangunan tidak cukup bertumpu pada infrastruktur, tetapi harus mampu mengoptimalkan potensi setiap wilayah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

banner 336x280

Hal itu disampaikan Kepala Bakorwil III Malang, Asep Kusdinar, saat menjadi dosen praktisi di hadapan mahasiswa Program Doktor (S3) Departemen Ilmu Pertanian, Fakultas Bio Industri Pertanian dan Kehutanan, Universitas Brawijaya, Selasa (13/10/2026).

Asep menjelaskan, Malang Raya memiliki kekuatan ekonomi yang berbeda tetapi saling melengkapi. Kota Malang bertumpu pada pendidikan, perdagangan, jasa, dan ekonomi kreatif.

Kota Batu memiliki sektor unggulan pariwisata dan pertanian, sedangkan Kabupaten Malang menyimpan potensi besar di bidang pertanian, perkebunan, industri, hingga kelautan.

Menurutnya, tantangan utama adalah menghubungkan seluruh potensi tersebut dalam satu sistem pembangunan yang terintegrasi.

“Megapolitan tidak boleh hanya dimaknai sebagai pertumbuhan kota. Kita harus membangun hubungan yang saling menguatkan antara kota dan desa. Keduanya harus terhubung dan tumbuh bersama,” tegasnya.

Asep menilai, desa perlu mendapat ruang lebih besar sebagai penggerak ekonomi. Potensi pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan harus dikembangkan melalui teknologi, industri pengolahan, serta perluasan akses pasar agar menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.

Dukungan 67 perguruan tinggi negeri dan swasta di Malang Raya juga menjadi peluang untuk memperkuat riset terapan dan inovasi. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong produk lokal bersaing di pasar yang lebih luas.

Sementara itu, pembangunan Jalan Tol Pandaan–Malang dan Jalur Lintas Selatan (JLS) dinilai dapat membuka akses menuju pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Namun, manfaatnya harus ditopang penguatan UMKM, kesiapan sumber daya manusia, dan pengembangan usaha berbasis potensi lokal.

Asep juga menekankan pentingnya pengembangan ekonomi hijau dan ekonomi biru melalui pengelolaan pertanian, perkebunan, perikanan, serta pariwisata yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

“JLS harus membuka peluang, desa harus menjadi penggerak ekonomi, dan kolaborasi harus memastikan manfaat pembangunan dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Ia menegaskan, pembangunan Malang Raya Megapolitan membutuhkan sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat.

Tujuannya bukan sekadar menghubungkan wilayah, melainkan membangun ekosistem ekonomi yang membuat potensi desa dan kota berkembang bersama serta manfaatnya dirasakan secara lebih merata. (dunk)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.