Pidato Nyeleneh Kiai Haji Nahrowi Dalhar (Mbah Dalhar Watucongol) di Muktamar NU ke-14 Magelang

Pidato Nyeleneh Kiai Haji Nahrowi Dalhar (Mbah Dalhar Watucongol) di Muktamar NU ke-14 Magelang

Wakil Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah, K.H. Achmad Chalwani, menceritakan kisah dari Kiai Siraj Payaman dan Kiai Nahrowi Dalhar saat Muktamar Nahdlatul Ulama yang ke-14,

Bagaimana kisah Kiai Siraj Payaman dan Kiai Dalhar Watucongol?

Kiai Achmad Chalwani Nawawi yang juga merupakan Pendiri STAI an-Nawawi Purworejo itu kemudian bercerita

Begini kisah ceritanya:

Dua ulama besar Magelang ini masing-masing punya kelebihan. Kiai Siraj, belum ada orang berpidato Kiai Siraj sudah pidato ke mana-mana sampai Purworejo, sampai Kudus, sampai Semarang. Dan kalau berpidato kemana-mana itu ayatnya cuma satu, Alif lam mim, itu saja. Tapi hadirin ya itu tenang semua.

Kalau Kiai Dalhar itu cuma diam, amat jarang bicara, tidak pernah pidato Kiai Dalhar itu.

Tapi ketika ada salah seorang santri berkunjung ke Kiai Siraj, santri itu bertanya:
“Kiai kenapa Kiai banyak bicara, suka pidato di mana-mana? Kalau Kiai Dalhar kok diam saja, tidak pernah berpidato, bagaimana sih perbedaannya?”

Maka Kiai Siraj dengan sangat takdim, hormat memuji Kiai Dalhar. Walaupun Kiai Siraj pandai berpidato, tidak menampakkan kekurangannya Mbah Dalhar di bidang pidato. Memang Mbah Dalhar itu wali, sama-sama wali,

Kiai Siroj mengatakan,

“Kamu jangan berani-berani dengan Kiai Dalhar ya. Kiai Dalhar itu mondok di Makkah di atas 22 tahun. Ilmu dari Makkah diboyong semua ke tanah Jawa. Ibarat tempat air (bejana) airnya penuh, tidak keluar suaranya, itu Kiai Dalhar,” kata Kiai Siraj seperti itu.

Jadi Kiai Siraj sangat takdim dengan Kiai Dalhar. Walaupun Kiai Dalhar tidak pernah berpidato. Ketika Muktamar NU di Magelang, para ulama semuanya termasuk Mbah Wahab Chasbulloh, Mbah Bisri Syansuri, mendaulat Kiai Dalhar untuk berpidato di depan Muktamirin. Akhirnya Kiai Dalhar tampil di podium. Semuanya heran mendengar Kiai Dalhar berpidato. Heran semua, karena tidak pernah berpidato. Ternyata pidatonya ringkas sekali,

“Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh. Sapa wilujeng sedaya (pada selamat semua)? Panjenengan lak NU to? (Anda semua NU kan)?. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.”

Dengan sepenggal kata-kata seperti itu, itu menjadikan motivasi yang sangat besar. Habis itu, masyarakat di sekitar Magelang, Purworejo, Boyolali, Temanggung, Wonosobo berduyun-duyun masuk NU, karena pidato Mbah Dalhar yang amat ringkas ini, itu karomah namanya. Kadang-kadang kita sekarang ini, bicaranya satu jam, malah tidak taslim dengan NU, kadang-kadang seperti itu. Mbah Dalhar tidak seperti itu, ini karomah.

Jadi, karomahnya para wali itu adalah bagian dari mukjizatnya para Nabi. Inkaru karamatil auliya’i yuadi ila inkari mu’jizatil anbiya, ingkar dengan keramatnya para wali menjadikan ingkar dengan mukjizatnya para nabi. Kalau sudah ingkar dengan mukjizatnya para nabi kan sudah rusak imannya.

Lahumul Fatihah 🤲

Cerita: KH. Achmad Chalwani Nawawi (pengasuh pondok pesantren an-Nawawi, Berjan, Gebang, Purworejo)

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *