Srikandi Kretek ini Bekali Ratusan Mahasiswa Terkait Kontribusi IHT dalam Menopang Perekonomian Negara

Srikandi Kretek ini Bekali Ratusan Mahasiswa Terkait Kontribusi IHT dalam Menopang Perekonomian Negara

Pasuruan – Di hadapan ratusan civitas akademika Universitas Merdeka (Unmer) Pasuruan, ketua Gapero Surabaya Sulami Bahar merasa hati gembira. Pasalnya, ini momen pertama kalinya berbicara di depan teman-teman mahasiswa dan mahasiswi.

“Alhamdulillah, rasanya penting sekali berbicara dengan adik-adik mahasiswa dan mahasiswi mengenai kontribusi industri hasil tembakau (IHT), kompleksitas persoalan kebijakan, dan lain sebagainya,” kata Sulami Bahar saat mengisi seminar nasional ‘Catatan Kritis Kebijakan Cukai Hasil Tembakau dan Tantangan ke Depan’ yang digelar Fakultas Ekonomi Unmer Pasuruan belum lama ini.

Srikandi Kretek ini mengatakan, IHT selama ini dikoyak-koyak melalui berbagai kebijakan yang memberikan dampak bagi kelangsungan usaha IHT. Ia bilang bahwa IHT salah satu industri strategis yang taat dan patuh pada pemerintah.

“Kami ingin sampaikan pada adik-adik bahwa IHT adalah industri yang padat regulasi (fully regulated), banyak sekali, ada sekitar lebih dari 250 regulasi, mulai tingkat Undang Undang sampai dengan tingkat Peraturan Daerah,” imbuhnya.

Di lain sisi, IHT memiliki kontribusi yang luar biasa dimana IHT merupakan satu-satunya industri nasional yang terintegrasi dari hulu sampai hilir. Hal tersebut karena IHT memiliki peran signifikan dari penyedia input produksi, pengolahan, hingga proses distribusinya. IHT memberikan kontribusi yang signifikan bagi penerimaan nasional.

“Kontribusi kami kepada negara itu luar biasa, saat ini tahun 2022 kami memberikan kontribusi kepada negara sebesar Rp188 triliun. Dan dari 188 triliun sumbangan Jawa Timur sebesar 101 triliun, luar biasa. Dan yang lebih luar biasa lagi, kontribusi terbesar dari Kabupaten Pasuruan,” jelas Sulami yang disambut aplaus audiens.

Adik-adik mahasiswa mahasiswi juga harus memahami tantangan terbesar yang dihadapi IHT. Diantaranya wacana kenaikan tarif cukai yang sangat signifikan, dan wacana penyederhanaan (simplifikasi) tarif cukai.

Sulami menjelaskan bahwa konsep simplifikasi tarif cukai adalah penyederhanaan struktur tarif cukai yang sudah ada. Layer tarif cukai tahun 2012 adalah 15 layer dan saat ini tahun 2022 berdasarkan PMK No.192 menjadi 8 layer.

“Pada awal 2022 simplifikasi dilakukan kembai dengan menggabungkan layer Sigaret Kretek Mesin (SKM) golongan IIA dan IIB. Sehingga ada beban besar di golongan IIB, golongan IIB itu yang kecil-kecil itu harus membayar tarif yang lebih tinggi,” ujarnya.

Jamak diketahui, pada dasarnya simplifikasi ini sangat memberatkan bagi industry. Pihaknya berharap pemerintah jangan melakukan simplifikasi. Pasalnya, dari data yang ada, simplifikasi tarif cukai relatif berbanding lurus dengan penurunan pertumbuhan volume produksi rokok berpita cukai (legal).

Sulami Bahar menambahkan, simplifikasi dan kenaikan tarif cukai berbanding lurus dengan peningkatan peredaran rokok ilegal. Artinya kalau simplifikasi itu nanti dijalankan, berarti harga rokok akan semakin mahal dan akan menambah maraknya rokok ilegal.

“Kalau itu terjadi kerugian ada negara karena tentunya pendapatan negara akan berkurang. Pada tahun 2019 ketika tidak ada kenaikan tarif cukai, tidak ada simplifikasi, peredaran rokok ilegal mengalami penurunan signifikan,” terangnya.

Pada titik inilah, Gapero Surabaya merekomendaikan 3 poin kebijakan yang ideal pada pemerintah. Pertama, pemerintah bisa mempertimbangkan untuk memberlakukan kenaikan cukai secara multiyear.

“Artinya kebijakan kenaikan tarif cukai ditetapkan untuk beberapa tahun mendatang, misalnya 3 hingga 5 tahun, sehingga pelaku IHT ada waktu untuk mengatur di intern perusahaan kami,” katanya.

Kedua, kenaikan yang moderat dengan dasar perhitungan yang jelas dan konsisten seperti inflasi atau petumbuhan ekonomi. Pihaknya tidak mau digabung antara inflasi dan pertumbuhan ekonomi karena jatuhnya pasti 2 digit. Bila perlu tahun 2023 tidak ada kenaikan tarif cukai.

“Berikan kami recovery yang sudah tiga tahun berturut-turut dihajar dengan kenaikan tarif cukai, tahun 2020 23 persen, tahun 2021 12,5 persen, dan tahun 2022 sebesar 12 persen. Artinya itu sudah luar biasa memberatkan, belum lagi ada kenaikan pajak,” tegasnya.

Ketiga, perlunya roadmap industry hasil tembakau yang bertujuan memberikan kepastian usaha bagi IHT.

“Roadmap ini untuk menunjang kebijakan multi-years. Sehingga kami sudah tahu tahun depan ada kenaikan berapa dan seterusnya,” pungkasnya. ***

 

 

Tim Redaksi

Tim Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *